Pages

Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2009

Antara Seorang yang Berilmu dan yang Beramal

Abbas As Sisiy, menceritakan kisah berikut dalam bukunya ”Ikwanul Muslimin dalam Kenangan”


Seperti biasanya sekelompok pemuda yang taat menjalankan agama pergi ke masjid Abu Bakar ash Sidiq di kota Idku untuk mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah. Salah satu diantara mereka bertindak sebagai pembicara sesuai dengan kadar keilmuannya.


Tatkala imam masjid datang, para pemuda itu memmpersilahkannya untuk jadi pembicara. Analoginya, apabila terdapat air, maka batallah tayamum. Ketika imam mulai pembicaraan di hadapan mereka, ia mulai dengan menasehati para pemuda tadi agar orang yang dijadikan pembicara di tempat seperti ini haruslah seorang yang menguasai Al Quran, baik hafalan, bacaan, keilmuan, maupun pemahaman. Selain itu, juga harus banyak menghafal hadist-hadist nabi, sehingga ia pantas untuk duduk di tempat agung ini.


Para pemuda tadi merasa dalam kesulitan di hadapan para hadirin yang sudah akrab dengan mereka, karena imam masjid menganggap mereka seperti orang-orng bodoh yang berbicara tidak dengan ilmunya.

Kemudian seorang pemuda tidak dapat menahan rasa jengkelnya kemudian berkata, ”Hai Syekh, kami tidak menganggap diri kami ulama, tidak pula fuqaha. Kami hanyalah mengerjakan setiap apa yang kami pelajari, karena dalam hadist Rasul disebutkan ”Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. Jadi, kami hanyalah pengikut, dan kami tidak berbicara kecuali kami ketahui.”


Disinilah salah seorang yang hadir di masjid tersebut ikut angkat bicara, usianya lebih dari 70 tahun, menyatakan pendapatnya tentang masalah tersebut kepada imam masjid.

”Syekh yang mulia, jika pendapat Anda betul, maka sesungguhnya pendapat itu tertuju kepada Rosulullah, yaitu keharusan Rosulullah untuk memulai dakwahnya kepada seluruh manusia sampai Al Quran diturunkan semuanya, setelah itu barulah rasul menyampaikan kabar gembira dengan dakwah Islam. Tetapi yang kami dapati, Rasulullah memulai dakwahnya dari ayat pertana yang turun kepadanya hingga sempurnanya Islam. Kemudian Rasulullah wafat setelah turun ayat, ’Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Kuridhai Islam itu jadi agamamu.’Syekh itu terdiam dan para pemuda kaget. Dan kelompok pengajian itu terus berlanjut atas lindungan Allah. Peristiwa itu tidak membuat hubungan para pemuda itu dengan imam masjid berkurang, begitu pula penghormatan mereka kepadanya serta mengambil faedah dari ilmunya.

Selasa, 10 Maret 2009

Teladan Dari Bashrah

Setelah perang Al Qadisiah, di mana pasukan muslim mengalahkan pasukan Persia dan di saat para pekerja menghitung harta rampasan dengan disaksikan dan didengar langsung oleh kaum muslimin, tiba-tiba datang ke tengah-tengah mereka seorang lelaki berambut kumal penuh debu membawa sebuah gentong besar lagi berat yang ia bawa sendiri dengan kedua tangannya.


Dengan takjub mereka memperhatikannya. Ternyata sebuah gentong yang belum pernah merekaa lihat. Isinya? Mereka belum pernah mendapatkan harta rampasan seperti itu atau sepadan dengannya. Di dalamnya terdapat batu permata dan intan berlian yang sangat berharga.


Mereka pun bertanya kepada laki-laki itu, ”Dari mana anda dapatkan harta simpanan yang sangat berharga ini?”


”Aku dapatkan dari peperangan anu, ditempat anu, ” jawabnya singkat. ”Demi Allah, gentong ini dan segala yang dimiliki raja-raja Persia bagiku tak senilai dengan ujung kuku sama sekali. Kalau sekiranya tidak ada hak baitul maal di dalamnya tentu tak akan aku angkat dan aku bawa gentong itu ke tengah-tengah kalian,” jawab laki-laki itu.


”Siapakah anda?” tanya mereka


”Tidak . . . demi Allah, aku tidak akan memberi tahu kalian dan juga orang lain, agar kalian tidak memuji dan menyanjungiku. Aku hanya memuji dan menyanjung Allah serta berharap pahala dari-Nya.” kata laki-laki itu serayaberlalu meninggalkn mereka.


Terdorong oleh rasa penasaran yang sangat mereka mengutus seseorang untuk membuntuti dan mencari informasi tentang laki-laki itu. Ternyata laki-laki itu adalah pemuda Amir bin Abdillah At Tamimi.


Apa yang diambil dari kisah tersebut???

Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda Islam dalam kehidupan amat penting. Karena pemuda merupakan pemilik potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah umat manusia.


Di dalam Al Quran kisah pemuda tertulis dalam kisah Ashabul Kahfi. Ini mencerminkan potensi pemuda, agar potensi tersebut dapat berkembang para pemuda dituntut melaksanakan sepuluh risalah. Yaitu:


1. Memahami Islam

Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam.


2. Mengimani Segenap Ajaran Islam

Iman kepada Allah dan Rosul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk. Tunduk dan patuh berlandaskan cinta kepada-Nya dan ittiba’ (mengikuti) rosul-Nya.

3. Mengamalkan dan Mendakwahkan Islam.

Ciri orang yang tidak mengalami kerugian dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam.

Barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

4. Berjihad di dalam Islam

Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam:

Jihad lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik, dan fasiq yang disertai dengan argumentasi.

Jihad maali atau Jihad harta, merupakan bagian penting karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.

Jihad dengan tangan/kekuasaan dan jiwa, yang termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, usaha mempertahankan diri terhadap serangan mereka, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam.

Jihad siyasi atau jihad politik, Islam merupakan agama yang syamil . . . jadi dunia politik adalah salah satu medan dakwah yang penting.

Jihad tarbawi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam.


5. Sabar dan Istiqomah di atas jalan Islam

Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqomah


6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam

Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah Islamiyah sesama muslim.

”Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lain saling mengokohkan.”


7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam


8. Optimis terhadap masa depan Islam

Pemuda Islam tidak boleh memiliki jiwa pesimis. Sebaliknya, harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah Swt.


9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktivitas yang telah dilakukan.

Hal ini dimaksudkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di hari mendatang, dan tidak terjebak dengan permasalahan yang sama.


10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam.

Yang perlu senantiasa kita ingat bahwa, memurnikan niat karena Allah dalam ibadah, dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.


Diadaptasi dari buku ”Super Mentoring 2” ___ Syamil Teens