Pages

Jumat, 03 Februari 2012

Episode Penantian: Kehamilan (Seri 1)

Pagi sebelum subuh, saat saya lihat di layar HP menunjukkan tanggal 26 Januari 2012, tepat 1 bulan setelah milad pernikahan saya yang ke 3. Saya berjingkat ke kamar mandi. Pagi ini saya akan melakukan satu test yang sudah sangat lama tidak saya lakukan. Sekitar 5 menit kemudian, sembari menahan napas, kernyitan dahi juga pupil mata yang mengecil, saya menunggu. 1 detik, 2 detik, 3 detik, mata saya melebar. Tangan saya jadi gemetar. Saya dekatkan lagi alat test tersebut ke mata saya. Allahu Akbar, saya bertakbir dan terus bertahmid dalam bisikan hati.


Apakah mata saya tidak salah?? Ada 2 strip merah yang tampak jelas di alat Test kehamilan tersebut. Artinya positif. Masih dengan tangan gemetar saya berberes, kemudian berwudhlu. Masih ada waktu untuk shalat lail, saya bersujud, saya bersyukur. Terima kasih yaa Rabb.



Saat adzan Subuh, saya mengSMS suami saya. Ingin mengabarkan, meskipun saya sendiri belum yakin 100%. Entahlah pagi itu hati saya bergemuruh, antara senang kesyukuran, juga menahan kekhawatiran kekecewaan jika alat tadi salah. Toh, alat tadi bukan alat dengan kualitas number one. Hanya Rp 3000 harganya, padahal yang kualitas baik berharga sekitar Rp 20.000.


Siangnya saya mengSMS teman saya yang berprofesi sebagai bidan. Jawabannya sangat menyejukkan “InsyaAllah akurat 99,99% mbak, apalagi sebelumnya sudah ada tanda-tandanya. Barakallah ya mbak”. Namun, esoknya saya tes lagi, sebelum saya mengabarkan hasilnya, suami saya sudah SMS menanyakan hasilnya (penasaran ^^), Alhamdulillah hasilnya masih sama. Insya Allah tinggal menunggu vonis dokter saja.


Yaa episode ini, memang episode penantian selama 3 tahun. Tentunya 3 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam sebuah pernikahan. Bukanlah waktu yang cepat menunggu berita gembira kehamilan. Apalagi rentang jarak, membuat saya dan suami harus mengahadapinya dalam kondisi yang berbeda. Dalam masa sepanjang itu, cukup banyaklah tempaan kesabaran yang menguras emosi. Bahkan stress, dan malas bertemu dengan orang-orang tertentu.


Yaa . . . Subghanallah, ternyata Allah SWT mengabulkan doa-doa kami berdua, saat kami benar-benar merasa pasrah dan tawakal padanya. Saat kami merasa pertanyaan banyak orang bukanlah lagi seperti “terror”, hanyalah bentuk perhatian. Saat kami merasa enjoy dengan “penantian”. Sehingga, saat Test Pack itu menunjukkan hasil tak seperti biasanya kami benar-benar merasa surprise, kejutan yang sangat indah dari Allah Rabb Semesta Alam, Sang Maha Segalanya. Alhamdulillahirrobbil’alamin.


8 komentar:

  1. Sungguh sebuah penantian yang panjang. Dengan keterbatasan pertemuan, akhirnya Allah dengan rahmat-Nya mengabulkan doa-doa kita.
    Terus berdoa dan bersyukur ya dek, semoga kehamilannya lancar, dimudahkan dalam proses kelahirannya, bayinya sehat tak kurang suatu apa, dijadikan anak yang sholeh/sholehah, mujahid / mujahidah yang selalu berbakti kepada orang tua.

    #wah wes kangen iki ama dedeknya (bundanya ndak usah cemburu ^_^), tapi musti menunggu satu minggu lagi.

    BalasHapus
  2. Subhanallah..barakallah.. selamat mbak yuli dan mas fifin....semoga mbak yuli dan dedeknya sehat selaluuuu.... :)

    BalasHapus
  3. subhanallah, selamat buat fiffin dan mbak yuli. semoga calon bayi mbak yuli sehat selalu, dilancarkan dan dimudahkan.

    Semoga besar nanti menjadi penerus model Wimax. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin ya Rabb, terima kasih Iput.

      Hehe..jd engineer, penerus model wimax... amin...

      Hapus
  4. Telah Allah tulis pd lauhil mahfudz..mk tak ad kata lama atau sbntar dlm pnantian,krn sbr adl bagian dr ujian utk mngtahui mana2 hamba yg b'iman & mn yg ingkar.Ia dtg,saat gnerasi pndahulunya pergi,kmbali pd pmilikNya..BARAKALLAHU..:-)

    BalasHapus
  5. barokallah... semoga kelak menjadi anak yang selalu di lindungi Allah

    BalasHapus