Pages

Minggu, 13 November 2011

Pembiasaan Pendidikan Karakter Bangsa di Kelas Saya


Mulai tahun pelajaran baru 2011-2012, dunia pendidikan di Indonesia dikenalkan dengan hal baru dalam ranah-ranah pembelajaran, tidak merubah kurikulum yang sudah ada. Namun disisipi dengan beberapa nilai-nilai luhur, yang diharapkan bisa menjadi pembiasaan bagi anak didik untuk bersikap dan bertindak. Inilah yang disebut dengan Pendidikan Karakter Bangsa. Berdasarkan apa yang pernah saya baca, pendidikan Karakter Bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, kreatif dan inovatif.


Secara terprogram pendidikan karakter bangsa di sekolah merupakan usaha bersama semua guru dan kepala sekolah melalui semua mata pelajaran dan budaya sekolah dalam membina dan mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada peserta didik. Pembinaan dan pengembangan pendidikan karakter bangsa terjadi melalui proses aktif peserta didik di bawah bimbingan guru dalam kegiatan belajar. Jadi disini, guru dituntut untuk bisa menjadi "sebenarnya" tauladan bagi peserta didik


Sedangkan secara teknis pendidikan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya, karakter bangsa dan nilai-nilai luhur akhlak mulia yang dilakukan oleh peserta didik secara aktif di bawah bimbingan dan contoh perilaku guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah, serta diwujudkan dalam interaksi sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat.


Memang, disini dibutuhkan pembiasaan-pembiasaan yang bisa mengcreated karakter anak. Pembiasaan-pembiasaan yang terintegrasi dalam pembelajaran, tentu saja berkaitan dengan materi pelajaran dan disertakan dalam pembuatan silabus dan RPP. Adapula pembiasaan-pembiasaan diluar jam pelajaran yang tak ada hubungannya dengan materi pelajaran. Berdasarkan yang saya dapatkan saat dikirim dinas untuk mengikuti Workshop Pengembangan Kurikulum di Batu, Malang awal tahun ajaran baru lalu, ada 18 karakter pendidikan yang dikembangkan, yaitu Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung-jawab.


Penerapannya tak terlalu sulit sebenarnya, namun dibutuhkan kontinyuitas/keistiqomahan dari pendidik (guru) untuk secara sadar melakukan pembenahan, tauladan, juga tak bosan-bosan mengingatkan serta memotivasi peserta didik. kalau yang terintegrasi di kelas, okelah semua guru pasti sudah tahu dan bisa asalkan mau. Namun tentu saja tak cukup dengan materi penjabaran di kelas. Banyak sarana-sarana pembiasaan yang bisa diterapkan diluar kelas. Berikut beberapa hal yang saya lakukan di kelas saya, juga di kelas rekan-rekan saya satu SD, juga yang telah menjadi kesepakatan yaitu:

  1. Pembiasaan dan pemberian tugas piket, saya biasa cerewet dulu saat datang pagi dikelas kalau ternyata kelas dan halaman masih kotor. Dan tak mau memulai mengajar sebelum petugas piket dan sie kebersihan tuntas melakukan tugasnya. Eitsss . . . disini bu gurunya jangan hanya ngomel, but action. Ikutlah serta memegang sapu, membereskan ini itu . . . menjadi tauladan karena aksinya bukan ngomelnya hehehe.
  2. Pemberian tanggung jawab memegang kas kelas, tentu saja ini diterapkan dikelas tinggi (untuk SD yaitu kelas 4, 5, 6). Memfungsikan bendahara kelas untuk memegang uang kas kelas dan beberapa pembayaran yang jumlah uangnya tak terlalu besar. Seperti di kelas saya tiap hari Senin ada iuran Rp 500,- untuk kas kelas. Mereka mengumpulkan sendiri, menghitung, dan melakukan pencatatat masuk-keluar uang. Disini guru hanya mengontrol, membenahi, dan memberikan saran.
  3. Pemberian tugas bertanggungjawab terhadap barang inventaris kelas, tentunya ada beberapa barang di kelas yang membutuhkan perawatan. Libatkan siswa untuk ikut memilikinya dengan ikut merawatnya. Di kelas saya di sediakan galon air minum Aq**, untuk minum siswa yang dipasang diguci keramik. Para siswa secara bergantian bertanggung jawab untuk mencuci gelas minum, dicuci dirumah masing-masing untuk dibawa kembali keesokan harinya. Begitu pula dengan taplak meja, serbet, bendera. bergantian sesuai absen.
  4. Pembiasaan berdoa bersama, berdoa bersama setelah SKJ juga berdoa dikelas masing-masing.
  5. Pembiasaan disiplin masuk kelas, berbaris rapi sebelum masuk kelas. Semakin susah rapi, semakin lama berdiri di depan kelas.
  6. Pembiasaan dengan kebersihan diri, yang paling sering saya lakukan adalah memeriksa kuku tangan bagi yang berkuku panjang stop dulu di luar, sembari menyelesaikan acara memotong kukunya.
  7. Mengucapkan salam saat masuk kelas
  8. Sholat dhuha bersama, juga sholat dhuhur berjamaah -dalam rencana, nunggu musholanya 100% jadi-

Ini hanya sebagian kecil saja, tentunya masing-masing pendidik mempunyai cara sendiri untuk memberikan kebiasaan pada peserta didik. Tergantung kekreatifan guru dan kemauan guru. Jadi 18 karakter bangsa yang ditetapkan janganlah hanya menjadi wacana atau hanya tertulis di RPP-silabus saja, dengan maksud agar Pengawas Sekolah ACC dengan pekerjaan kita. Namun benar-benar dijadikan motivasi lain bagi pendidik untuk menyelamatkan karakter anak bangsa, sembari memberikan sejuta tauladan, nasehat, penanaman akhlaq mulia. Bismillah, selamat bekerja!!!




Selasa, 01 November 2011

Mengemas Kenangan di Rumah Kost

Rumah itu sederhana saja, terletak di salah satu sisi pertigaan Jalan Sawo dengan jalan tembus ke Jalan Raya Monginsidi, letak SMA 1 Magetan. Jalan Sawo, merupakan salah satu jalan sentra lingkungan industry kecil kerajinan kulit. Produk yang terkenal adalah sepatu dan sandal. Jelaslah kanan kiri, depan belakang rumah sederhana tadi adalah pabrik-pabrik sepatu home industry. Dibandingkan dengan rumah yang lain, yang sudah mengalami modernisasi karena menjadi ruko, tentulah rumah tadi tampak sangat kuno. Namun rumah tadi amatlah bersih. Walau pintu dan jendelanya model jadul, lantainya pun bukan keramik hanya berlapis semen yang halus. Rumah sederhana itu adalah rumah kost saya, selama 3 tahun menuntut ilmu di SMA 1 Magetan.

Di rumah itu hanya ada 2 kamar yang disewakan. Satu kamar dengan ukuran 2,5 x 3,5 meter. Dan kamar yang lain dengan ukuran hampir 2 kali lipatnya. Tahun pertama ketika saya kost di rumah itu, harga sewanya hanya 20ribu per bulan. Kelas 1 SMA saya menempati kamar yang ukurannya lebih kecil bersama mbak kandung saya yang sudah kelas 3. Sementara kamar yang besar ditempati oleh 4 orang. 3 kakak kelas saya (salah satunya adalah saudara sepupu saya) dan 1 teman seangkatan. Tahun kedua, setelah mbak saya lulus, posisinya digantikan oleh Mbak Erna, kakak kelas saya yang manis dan cerdas namun agak pendiam dibandingkan yang lain. Sementara kamar sebelah ditempati 3 orang. Harga kost naik menjadi 25ribu sebulan. Tahun terakhir, hanya saya dan teman seangkatan, Teh Rini Latifah yang tersisa. Kami berdua pindah ke kamar yang lebih besar. Terasa longgar namun menjadi sepi. Sampai akhirnya datang satu teman kami, Peni. Bertiga kami bertahan di kostan itu.

Rumah kost yang saya tempati selama 3 tahun itu, jaraknya sekitar 350 meter dari SMA 1 Magetan. Tak sampai 7 menit kami sudah sampai. Memang agak jauh dibandingkan dengan kost-kost elit yang tepat di depan SMA. Sering pula kami jalan setengah lari karena baru keluar kostan sudah terdengar bel masuk berbunyi, walhasil ngos-ngosan sampai di pintu gerbang, melihat wakasek kesiswaan berdiri berkacak pinggang…hehe. Ini adalah kebiasaan buruk, Kota Magetan yang sangat dingin di pagi hari membuat kami berenam malas mandi pagi-pagi. Jadinya setelah pukul 05.30 acara antri mandi baru dimulai. Dengan cepat dan kilat, gosok gigi harus diluar kamar mandi. Karena kamar mandinya hanya 1.

Dengan harga hanya 20-25ribu tentu saja saya dan teman-teman harus masak sendiri. Tapi kami hanya masak nasi. Pada hari senin pagi, ketika satu per satu berdatangan dari kampung. Masing-masing membawa beras 1-2kg, ada pula yang membawa gula, ada pula ibu yang berbaik hati membuatkan lauk apa saja. Cara memasak nasi yang kami terapkan adalah cara mengetim. Yaitu menanak nasi dengan cara meletakkan beras di wadah alumunium lalu diberi air dengan ukuran dua ruas jari telunjuk. Kemudian dimasukkan ke panci yang sudah diberi air pula. Dijerang di kompor minyak tanah, lalu tunggu selama 1 jam. Biasanya masa menunggu ini, kami manfaatkan untuk belajar, tidur-tiduran, ngobrol, dll. Tak jarang kami lupa, baru ingat setelah tercium bau gosong . . . wush tanpa dikomando satu dua diantara kami berlarian ke dapur, menyelamatkan si nasi.

Karena sudah punya nasi, kami tinggal membeli lauknya. Untuk sarapan, beruntung jarak satu rumah dengan kostan kami ada penjual pecel yang enak sekali. Jadi biasanya secara bergantian sambil antri mandi kami membawa sepiring nasi panas ke penjual pecel, nanti Lik Harti akan menambahkan bermacam sayuran dan menuangkan sambal pecel diatasnya plus satu buah lentho. Menu sederhana ini harganya cukup Rp 500,00. Murah sekali kan. Untuk makan siang, kalau kami pulang tepat waktu tak ada urusan ekstra dan praktikum di sekolahan, kami membeli lauk dari penjual lauk pauk dan gorengan yang berkeliling tepat pukul 13.30 atau membeli gado-gado di tetangga sebelah (gado-gado disini buat lauk, jadi kami tetap menambahkan nasi) atau menggoreng telur ceplok. Bagaimana dengan makan malam? Nasi tentu saja ada. Bu Um, ibu kost kami yang hanya sendirian tinggal di rumah itu. Setiap sore berbaik hati memberi kami lauk, satu mangkok sayur dibagi untuk semua, dan masing-masing satu potong tempe atau ikan lainnya. Walaupun begitu kami sangat menikmatinya, enak sekali rasanya.

Setiap shalat maghrib, isya dan subuh kami shalat berjamaah, salah satu dari kami menjadi imamnya. Usai shalat maghrib, bersahutan bacaan alquran dari kamar masing-masing. Harus saya akui, kondisi di kostan ini pula yang membuat saya lebih sadar untuk mempelajari agama dengan semangat yang lebih baik lagi. Bertahan untuk tak tergoda dengan hal-hal yang tak sejalan dengan hukum Islam.

Tiga tahun bersama teman, juga mbak-mbak kost, sudah menjadi satu keluarga. Suka duka kami jalani bersama. Tawa dan tangis, senang dan sedih. Kost ini memang menjadi saksi dalam 3 tahun perjalanan hidup masing-masing dari kami. Kost kami memang sangat sederhana tapi begitu nyaman, dengan ibu kost yang baik hati pula. Oleh karena itu, hampir tiap sore ada saja teman-teman salah satu kami yang datang ke kost, sekedar ngobrol, belajar, urusan organisasi dan sebagainya. Makanya tak pernah sepi. Kami belajar bersama, tidak bisa satu soal cukup bertanya dengan yang lain. Maka yang bisa akan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya. Alhamdulillah saya punya teman kost seangkatan Teh Rini yang pandai Matematika dan Fisika ^^.

Semakin mengingat, semakin berkelebatan penggalan-penggalan kisah di kost sederhana ini. Luar biasa, saya merasakan begitu banyak cinta, begitu banyak pengalaman, yang mengajarkan arti “berjuang” pada saya. Lebih peka, tinggal bersama. Mengikis egois, berbagi dengan teman lainnya. Sampai akhirnya, setelah 3 tahun saya sempurna menuntaskan belajar saya di SMA 1 Magetan. Sempurna juga, waktu saya berdiam di kamar kost saya, rumah kost kami. Mengepak barang-barang, mengemas setiap kenangan. Menyusul pendahulu kami, mbak-mbak kost kami menuju kota impian, menjemput cita-cita. Dengan ucapan syukur dan doa, juga perpisahan yang sebenarnya menyesakkan dada. Mencium takzim tangan keriput ibu kost kami. Bersama ucapan terima kasih yang tiada tara. Kostan itu akan menjadi bagian sejarah hidup saya, pun saya yakin begitu pula dengan sahabat-sahabat saya.

Jumat, 28 Oktober 2011

Kebersamaan, Hikmah Lain Persiapan Lomba PSN

2 Pekan terakhir sekolah tempat saya mengajar sedang disibukkan dengan persiapan lomba Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Semua warga sekolah, mulai dari Bapak Kepala Sekolah-Guru-Pegawai Kependidikan-Siswa, bahu-membahu menciptakan lingkungan, mempersiapkan data untuk mendukung lomba PSN. Pun tak ketinggalan pegawai Puskesmas Kecamatan, PKM Kawedanan, yang mengajukan SD kami mengikuti lomba tingkat Kabupaten, juga ikut wira-wiri ke sekolah melakukan pembinaan.


Lomba PSN, merupakan kepanjangan tangan dari Gebyar Pemberantasan Sarang Nyamuk, Wamantik, dan Gumantik yang dicanangkan oleh Dinkes. Tujuannya pastilah, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melaksanakan aksi 3M PSN, guna mencegah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh si nyamuk nakal. DBD dan Chikungunya. Untuk penilaian dan kunjungan dari Dinkes, Juri, juga pihak terkait, insyaAllah akan terlaksana tanggal 1 November 2011, masih ada 2-3 hari untuk berbenah.


Dalam setiap masa, ketika sekolah kami diajukan lomba baik tingkat kabupaten atau propinsi, selalu ada kesan dan keunikan yang saya pribadi rasakan dan mungkin juga rekan-rekan saya lainnya, yang memfluktuasi emosi, dan tentu saja meningkatkan kadar kelelahan. Mengapa bisa begitu?? Sebenarnya masa-masa persiapan lomba, adalah masa-masa sibuk. Pekerjaan yang setiap harinya sudah banyak, bertambah banyak dengan piranti-piranti lomba. Ditugasi ini, ditugasi itu, diskusi ini, diskusi itu, bersebarangan pendapat, gak enak hati, mau tak mau menjadi konsekuensi. Namanya juga dari sekian kepala yang pastinya punya ego masing-masing. . . Apalagi, hampir semua mengklaim dirinya berpengalaman. yaa begitulah . . . namun semua ini dinikmati seiring sejalan kesibukan.


Demikian pula dengan persiapan lomba PSN ini, kami bersama menyiapkannya. Ditengah kesibukan koreksi Ulangan Tengah Semester, menyusul pula kemah pramuka tingkat kwaran. Bapak kepala sekolah, memberikan intruksi ini itu . . . dan beliau pun tak sekedar intruksi . . . karena saya tahu banget, beliau adalah sosok pekerja keras walau 2 bulan lagi sampai diujung purna tugas. Seperti pagi ini, jelang persiapan hari-hari terakhir . . . sekolah mengerahkan massa, siswa kelas 2 - 6 untuk Jumat Bersih, tak ada yang berdiam diri. Ada yang menyapu, mengambil sampah, membersihkan taman, mengangkut sampah, mengepel, menguras bak mandi. Di luar acara bersih-bersih itu, adapula yang bertugas mengunjungi warga, agar juga mempersiapkan lingkungan rumahnya, mendukung PSN. Berlelah-lelah bersama, berkotor-kotor bersama . . . ketika semua target sudah oke, sambil menikmati lelah . . . saya juga yang lainnya merasa puas, melihat semua bersih, menyejukkan mata. Semua tersenyum, disela-sela helaan napas, kucuran keringat.


Juga ada harapan kami akan memenangkan lomba ini. Merasa bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan. Harapan menang jelaslah ada. Namun lebih dari itu, ada kesenangan karena lingkungan kami lebih bersih. Belajar, bekerja, berkarya terasa lebih nyaman. Dan lebih-lebih dari semua itu, kerja keras tadi, fluktuasi emosi, kelelahan, segala usaha telah memunculkan rasa yang luar biasa, bernama Kebersamaan.


*Mudah-mudahan lombanya berjalan dengan baik, memuaskan tidak memalukan. Namun kemarin ada satu teman yang berkata, "Mudah-mudahan menang, tapi juara 2 atau 3 saja . . . kalau juara 1, repot nanti maju ke propinsi . . . . wah tambah sibuuuuk lagi" . . .hehehe

Senin, 17 Oktober 2011

Episode "Shock Terapi", Karena HP Error Conection

Mulai ada tanda-tanda kekhawatiran saat bangun subuh, ternyata SMS saya kepada suami yang sejak isya' hari sebelumnya belum ada report terkirim. Tapi saya masih bisa tenang, sangat tenang. Ah mungkin belum ada signal. Karena saya paham banget, rumah kontrakan kami di Bandung yang baru 4 bulan ditempati, entah kenapa kalau masuk rumah signal HP jadi minim banget, bahkan blank. Kalau telepon supaya tidak putus-putus harus naik ke loteng, tempat jemuran. Yup, mungkin agak siangan dikit akan terkirim.


Namun, prediksi saya salah besar. Usai upacara bendera hari Senin, sekitar jam 8, kembali saya cek HP . . . Wah belum terkirim juga. Wushhh . . . derajat kekhawatiran saya jadi bertambah, tak signifikan namun mampu membuat degup dada saya lebih cepat ritmenya. Coba miscall saja . . . nomor suami yang bertengger paling atas di phonebook HP saya langsung terpencet . . . dan ohhhh . . . ternyata tulalit.
Hati saya jadi tidak tenang, acara ngajar tetap berjalan dan diterima dengan baik oleh murid-murid saya. Tapi mungkin murid-murid saya juga bingung, karena bu gurunya berulang kali ngecek HP, dan nyoba telp ndak bisa-bisa hehehe. Kenapa yaaa??? masak 18 jam ndak ada signal sama sekali, atau jangan-jangan HP saya yang error... atau jangan-jangan suami kenapa-napa di kontrakan kan sendirian di rumah . . . waduh mulailah pikiran-pikiran buruk menghantui, cepat-cepat saya istighfar . . . berusaha keras, keras sekali mengubur suudzon-suudzon yang berseliweran dengan prasangka-prasangka terbaik.


Ketika jam agak longgar, saya berusaha miscall nomor HP suami dengan nomor telepon kantor, hasilnya tetap tulalit. Pinjam HP teman, tetap saja tulalit. Jadi berkesimpulan, wah ini pasti nomornya error. Walau berkesimpulan begitu, namun gemuruh di hati saya tetap menderu-deru bak angin topan. tapi, bagaimana kalau kenapa-napa. Tetap saja saya bingung, mencoba nyari nomor rekan sekantornya suami, ternyata tidak ada sama sekali. Sebenarnya dulu saya pernah menyimpan nomornya Riris, salah satu rekan suami yang satu divisi, dan juga saya kenal. Cuma karena beberapa waktu lalu HP saya masuk "rumah sakit" jadi beberapa data dan nomor HP ikut hilang. Wah, gimana yaa cara mengetahui keadaan suami. Saya terus berpikir. Ehm . . . biasa kalau jam kerja begini suami online di YM, tanpa pikir panjang saat jam mengajar sedang kosong (setelah jam 11 siang) saya sign in . . . o o o, ternyata dia sedang offline. Sebelumnya, saya bikin status di twitter dengan mencolek account suami, biasanya dia selalu online twitternya. Tapiiii . . . sekian lama, dari menit-menit ke menit, jam ke jam kok ndak ada respon yaaa . . .


Kekhawatiran saya semakin menjadi-jadi, bibit-bibit dzon-dzon yang tadinya sudah berhasil saya kendalikan, dalam waktu sekejap kembali memenuhi prasangka saya. Kenapa yaa suami saya, kalau sakit bagaimana yaa? jangan-jangan ini . . . jangan-jangan itu. Masya Allah, hati saya sangat tidak tenang. Saat gemuruh hati menjadi-jadi, dalam perjalanan pulang ke rumah saya terus istighfar, dalam gemuruh rasa saya berdoa, ber alfatihah berulang dan berulang, dalam berkecamuknya prasangka, saya berdialog dengan-Nya. Ya . . . menitipkan suami saya pada-Nya, memohonkan perlindungan kepada Allah yang Maha Segalanya.


Sampai rumah, kembali saya buka laptop. Mudah-mudah, suami sudah online . . . kan habis makan siang. Tapi tetap tak ada dia disana. Saya sign in ke FB, barangkali ada beberapa teman kantornya suami yang jadi friends di FB yang online, sehingga saya bisa bertanya. Masya Allah, tumben banget sih gak ada sama sekali. AllahuAkbar, kekhawatiran saya semakin menjadi. Satu, dua bulir air mata mulai jatuh membelah pipi saya. Lalu saya shalat dhuhur, refleksi untuk membuat hati lebih tenang. Dan sekali lagi berdoa dan berdoa. Usai shalat, sekitar jam 13.45 ada SMS masuk ke HP saya. Nomor yang tak di kenal. saya berdebar,
"Assalamu'alaikum. Dek, afwan HPnya mas sedang error. Sepertinya sejak semalam, tapi mas baru tahu siang ini ternyata HPnya mas saja yang error connection. Ini mas sedang ada training di PAU ITB -Fifin-".

Lemas lah saya, kini air mata saya benar-benar tumpah. Bukan, bukan karena sedih atau kenapa. Namum karena lega yang luaaaaaarrrrrrrrrr biasa. Saya bersyukur, bersyukur sekali . . . memang tak kenapa napa orang yang saya cintai ini. Dan saya jadi tahu sebab, asal muasal kekhawatiran yang menyiksa ini . . . Nomor HP yang error, tak bisa dihubungi oleh siapa saja, dan suami sedang ada tugas training di luar kantor, pantas saja tak online...kan sedang belajar. Tanpa menunggu lama prangsangka-prasangka dikepala berterbangan entah kemana^^ . . .


Begitulah, sepenggal kisah "shock terapi" bagi jantung, jiwa, hati, cinta, kesabaran, untuk saya dalam menjali hubungan "spesial" dengan belahan jiwa. Selain itu saya juga mengambil hikmah, Karena kondisi saya dan suami yang masih long distance, untuk selalu menyimpan nomor HP orang-orang terdekat dengan suami, agar kalau ada apa-apa saya tak bingung mau menghubungi siapa. Setelah kejadian itu, malamnya . . . setelah puas saya "ngomel" lewat chat (kan HP masih error) -ngomelnya, karena pelampiasan dari berton-ton kekhawatiran yang menghimpit dada, bukti cinta^^, dan supaya ndak terulang lagi- Suami memberi saya beberapa nomor orang yang dekat dengannya, satu dua nomor rekan kerja, nomor teman kantor yang juga tetangga, nomor kantor, ada juga nomor bosnya . . . hehehe.


Demikianlah, episode-episode seperti ini, sebenarnya semakin memotivasi kami, saya dan suami. Untuk giat berusaha mewujudkan "mimpi-mimpi" kami. Bismillah . . .